Hari ini kujejakkan kakiku ke sekolah yang terletak kurang lebih 25 kilometer dari jalan besar Banda Aceh-Calang. MAS Patek nama sekolahnya. Patek merupakan sebuah nama kecamatan di Aceh Jaya ini. Padahal sekolah tersebut berada di kecamatan Darul Hikmah. Ah, aku tak mempermasalahkan hal tersebut. Yang kupermasalahkan adalah sekolah yang kutelusuri kali ini sangat memprihatinkan. Tidak terawat, itu kesan pertama yang kudapat. Rumput-rumput tumbuh menjulang tinggi, lantai keramik kotor, dan jalanan setapak becek tanpa adanya ojek. Bersama partnerku, Arif, aku tiba di tempat menuntut ilmu tersebut pukul 8 pagi ketika tak ada yang kudapat kecuali Ibu penjual lontong di depan sekolah. Belum ada murid, staf, maupun guru yang datang. Dengan dahi mengerut, kami sepakat untuk mengisi perut. Cukup lama kami bercakap-cakap dengan Ibu parah baya tersebut. Beliau berceritera bahwa kepala sekolah MAS Patek sedang sakit stroke dan harus memakai tongkat untuk berjalan. Bapak Pede panggilannya. Plesetan dari nama asli beliau, Pak Fadli. Ketika beliau sehat, Pak Fadli rajin sekali mengajak muridnya untuk pergi ke sekolah. Bahkan membangunkan mereka dari tempat tidur. Wah! Kisah yang hampir sama seperti di Laskar Pelangi, pikirku.

Sekonyong-konyong, tak lama dari kejauhan, terlihat seorang siswa laki-laki dengan rambut belahan setengah poni, bercelana abu-abu jubrai lengkap dengan kantong kargo memasuki sekolah yang tidak memiliki gerbang itu. 

Kubayar lontongku dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu penjual lontong sudah meluangkan waktu dan tempat untuk kami bertanya-tanya dan berteduh. Kami masuk ke sekolah dan ternyata sudah hadir beberapa guru di ruangan tamu yang merangkap ruang guru. Tanpa buang-buang waktu, aku dan Arif bersilaturahmi dan mengutarakan tujuan kami ke sekolah tersebut, menyurvey prilaku kesehatan mereka. Bak gayung bersambut, dengan ramahnya, pihak sekolah mengizinkan dan mempersilahkan kami untuk melakukan pengambilan data berupa angket. Kami senang sekaligus merasa linglung. Murid yang hadir hanya 5 siswa dari kelas 1, 2, dan 3. Kami memerlukan 24 siswa untuk pendataan tingkat pendidikan sekolah menengah atas. Sudahlah, nanti kita cari tambahan responden dari sekolah setipe lainnya saja, setujuku dengan Arif.

Di tengah pelaksanaan penyurveyan, tiba lagi seorang siswa dengan kaos oblong tanpa memakai sepatu hitam putih melainkan sendal jepit. Dia meminta permisi untuk mengganti seragamnya. Sebut saja inisialnya ZF. Setelah masuk, kami mempersilahkannya kembali masuk dan mengerjakan angket yang telah kami sediakan.

Kurang lebih 90 menit mereka menyelesaikan angket. Dengan pikiran masih berawan, aku bertanya kepada ZF, “apakah sekolah ini memang sepi seperti ini?”. “Tidak”, katanya. “Dua tahun yang lalu, murid-murid masih ramai, tidak seperti sekarang”, ujarnya. Sekedar informasi, total murid tahun ini hanya 20 siswa terdiri dari kelas 1 (2 siswa), kelas 2 (7 siswa), dan kelas 3 (11 siswa). Dan yang hadir hari ini hanya 6 siswa! 

Kulanjutkan pertanyaanku, “kira-kira kenapa berkurang peminatnya?”. ZF berkilah, “semenjak 2 tahun belakangan, banyak orang tua di kecamatan tersebut menyekolahkan anak-anaknya ke SMK yang berfokus pada pertanian dan pembangunan. Yap, ketika mereka tamat dari SMK, mereka dapat bekerja langsung disesuaikan dengan lokasi kediaman mereka di perbukitan”. Lanjut ZF, “lain halnya dengan MAS ini. Saat kami tamat, maka kami perlu untuk menyambung pendidikan kami ke bangku perkuliahan. Tau sendirilah, Pak. Aceh Jaya belum ada Perguruan Tinggi. Kami juga kalo ujian musti ke Meulaboh, Pak. Yaa mau gimana lagi sudah untung bisa sekolah walaupun roster pelajaran secara gonta-ganti, Pak”, jawab lugunya dengan tertawa.

Wah-wah. Hatiku trenyuh. Sebagai salah satu pelakon kecil pendidikan, aku merasa sedih, malu, dan bersyukur terhadap jawaban salah seorang murid tersebut. Sedih akan ketidakmampuan yang bisa kuberikan untuk pendidikan mereka yang lebih baik. Malu akan pemerintah kita yang kurang memperhatikan sekolah pedalaman seperti ini. Bersyukur akan kenikmatan pendidikan yang selama ini kutenggak. Semoga adek-adek di MAS Patek ini sukses berjaya seperti halnya nama kabupaten mereka berdiam, Aceh Jaya. Amen!

Kamarullah

Darul Hikmah, Aceh Jaya, 27 September 2016

Foto diambil oleh M. Arif Fadhilah – with Arif at MAS Patek

View on Path

Task for Students of Sharia (Semester 2 / STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa)

index

BENEFITS of FASTING

Fasting is part and parcel of the practices of many religions including, Islam, Judaism and Christianity. Today many are trying to dig up the benefits of fasting. Some people fast for spiritual reasons while others fast as a way to physically discipline the body. Whatever reasons one might come up with, it has been scientifically proved that fasting has tremendous health benefits.

First, fasting is said to play an important role in the detoxification of the body. Detoxification is a normal body process of eliminating or neutralizing toxins through the colon, liver, kidneys, lungs, lymph glands, and skin. This process starts when fasting. Food no longer enters the body and the latter turns to fat reserves for energy. These fat reserves were created when excess glucose and carbohydrates were not used for energy or growth, not excreted, and therefore converted into fat. Continue reading

TELLER OR TELER?

(October 5, 2013)

Interview-Cartoon

Since I was graduated from few weeks ago, I sent my CV for front liner (Teller) to a bank in Medan. The bank which I wanted to work is one of famous bank in Indonesia. And in this post, we called it as ‘Kudeta Bank.’

I got my first interview on a date that I put on header of this post. So, I prepared all my stuffs which I need in there such as my cover letter, undergraduate papers, my final marks, my office shirt, laptop, mobile, refrigerator, stove, Jacuzzi, etc. (Alright, my apologize. Now, I’m serious).

On that day, 8.10 AM precisely, there are so many applicants surrounding the bank. (Are you all wanna make a demonstration in here or what?). All of them were wearing a damn steady office shirt. And in this part, I was so unconfident for myself (Now, you lost your nose, Kehm *evil’s laugh*). They were so good looking, both men or women. Even, the women is using a very short skirt. (Hey Kehm, this is what we called as a big city. How pity you are, son).
Continue reading